OKU SELATAN CEMERLANG 2015


Berita Terkini , Update 24 Jam

HEADLINES NEWS

APAKAH GOTONG ROYONG ITU INTELEK DAN KEREN ?

 

Kalau kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), maka gotong royong dapat diartikan sebagai bekerja bersama-sama (tolong- menolong, bantu-membantu), dan merupakan manifestasi konkret dari semangat kebersamaan antar masyarakat dalam bantu-membantu dan tolong-menolong.

Memang kalau kita baca pada Oxford Dictionary, tidak akan ditemukan kata gotong royong. Lantas, apakah demikian para pakar sosial kita tidak menjadikan materi yang intelek untuk dibahas? Apakah para pakar lupa bahwa di awal masa kemerdekaan semangat gotong royong pernah membuat gentar bangsa barat karena Indonesia bisa menjadi Raksasa Muda ?

Tak terasa, greget gotong royong mulai pudar dari keseharian kita. Seharusnya kita mencoba membudayakan kembali gotong-royong untuk membangkitkan gairah kebersamaan kita.

Apakah status gelar “Sarjana” membuat orang tidak layak keluar rumah membawa cangkul untuk bergotong royong? Gotong royong bukanlah sekedar membersihkan parit dan mengecat pagar. Gotong royong adalah praktek olah batin untuk mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi (sepi ing pamrih rame ing gawe, orang Jawa bilang). Dan itulah kepribadian bangsa Indonesia.

Gotong royong bukanlah kegiatan yang terstruktur sebagaimana proyek orang barat. Contohnya gotong-royong mendirikan tenda jika ada kematian. Kematian bukanlah program kerja yang direncanakan oleh RT, RW, Kepala Lingkungan maupun Lurah, bukan? Sehingga gotong royong merupakan tindakan kebijaksanaan yang didalamnya mengandung tuntutan kewajiban. Jika dibahas lebih lanjut, maka kita akan mendapati gotong royong sebagai salah satu elemen kunci mencapai kerukunan yang justru dicapai dalam mengusahakan kepentingan individu.

Cobalah perhatikan kantor-kantor kita, untuk urusan yang sederhana membersihkan ruangan saja, kita sudah menggunakan jasa pengelola kebersihan atau lebih kerennya disebut cleaning service. Padahal, bisa saja pada saat pagi hari sebelum bekerja, kita bergotong royong membersihkan ruangan secara bersama sama. Kita lebih suka “membayar” untuk pekerjaan sederhana seperti itu.

Dalam urusan hajatan saja, orang lebih suka dengan cara yang lebih praktis. Sewa gedung, bayar catering, dan tamu undangan tinggal datang dan siapkan amplop. Padahal cara hajatan “tradisional” kita jauh lebih bermakna. Yaitu pada saat persiapan hajatan, kita dapat saling berinteraksi, dan saling bersosialisasi.

Sudah jarang kita mendengar adanya acara gotong royong membersihkan selokan atau lingkungan secara bersama sama. Terutama di lingkungan perkotaan. Orang lebih suka dengan cara instan membersihkan lingkungan dengan cara urunan dengan memberikan bayaran. Kebersamaan saat melakukan pekerjaan itu sebenarnya jauh lebih penting. Karena, kita bisa saling berinteraksi di dalam lingkungan.

Entah berkorelasi atau tidak, menurunnya pamor gotong royong disertai dengan meningkatnya kelakuan orang-orang yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Sehingga media massa penuh dengan berita tentang korupsi dan konflik sosial.

Dalam budaya kita, ada namanya budaya “sakai sambai”, yaitu bergotong royong saat menanam padi dan saat panen. Budaya seperti ini perlu kita lestarikan kembali. Karena intinya bukan hanya selesainya pekerjaaan, tapi proses bergotong royong ini dapat mengikat keakraban dan kekerabatan dalam masyarakat.

 

Semoga akan banyak orang pintar Indonesia yang mau mempelajari budaya negeri sendiri, sehingga mampu menempatkan budayanya dalam percaturan dunia modern. Sebagaimana Jepang menempatkan bushido dalam dunia modern, sebagaimana China menempatkan Konfusius dalam dunia modern.

Semoga kita dapat terus mempertahankan budaya gotong royong dan selalu merasakan indahnya kebersamaan.

 

   

 

tanjunguma.com

 
 
 
 
OKU Selatan
 
Pilihan Bahasa
KUNJUNGAN KE WEB INI